Friday, February 21, 2014

Peach - English version


I'm dizzy, my heart starts to race, my mind wanders to your face
I smile whenever I think of you.
Your every slight glance at me makes me really go crazy
How is it that you're so lovely, baby?

What is this strange feeling?
When I see you my heart becomes so numb and oh so sore.

Oh, I stumble to find the words, feelings flit like little birds,
But all the words in the world are not enough.
And your long legs standing still, 
I secretly wish that they will make their way towards me,
And then you will hug me, softly.

You know, you're so beautiful.
Maybe you will never know
How much I want to hide you in my embrace.
I'm not saying this out of a young heart,
But I want to marry you.

Oh, I stumble to find the words, feelings flit like little birds,
But all the words in the world are not enough.
And your long legs standing still, 
I secretly wish that they will make their way towards me,
And then you will hug me, softly.

Telling you all the time is not enough.
To show that my love is true, my little voice just for you,
I will sing for you.
Nana na na na na na na na ~

My heart keeps going to you; I don't know what to do.


Monday, February 17, 2014

you seems too cold, but it's okay

Hyuuh...
It’s too hot, it’s too hot
I need you
Even though the air conditioner and the refrigerator
Are running all day

The fervent heart
The burning face
Don’t seem to cool down

Oh my God!

Oh I really like you

I cannot endure this summer without you 
tturuttururu
You are mindless
I should not keep doing this

a cold you whom I really like




Thursday, February 13, 2014

Friday

He’s probably busy on Monday
Tuesday seems too soon, don’t you think?
Wednesday feels kind of awkward
I don’t like Thursday for some reason
This Friday
How is this Friday?
It’s too hard to wait till the weekend
Time, please go faster, I want to rush the clock (mind control)
Each minute, each second is so sweet
What is this man?
I can’t help but to fall in love
All day, my heart rides on that clock hand
Getting closer to you with each tick
This Friday
How is this Friday?
Although there isn’t a movie I really want to see
Although there isn’t anything I really want to eat
It’s too hard to wait till the weekend
Time, please go faster, I want to rush the clock (mind control)
Each minute, each second is so sweet
What is this man?
I can’t help but to fall in love
All day, my heart rides on that clock hand
Getting closer to you with each tick
It feels like something’s come over me
What is this girl?
I can’t help but love her
Let’s meet this coming Friday
Take all of my heart on that day
Closer, closer, come closer




Inside of Me



 
The other day, I cleaned my room and found photo album we made together when I was with you. Yesterday, I saw you in my dream and you told me that you were waiting for my love again. 
And today standing on the street, I saw someone who looks like you. 
She just walked away. 
Since then, I've lost all my pace. 
I'm trying to remember what faded away. 
 
 
Inside of me, wind turns into a hurricane when it seems to tell me about love. 
Inside of me things are in a state of drift when it seems to tell me about your world I can't feel anymore. 
I'll find a way to make you feel my mind It has changed me altogether that you drifted away.
 In this way, you'll be in my heart like something lasts forever and makes me awake.
 
 
Taru- Inside of Me
 

Friday, February 7, 2014

[POSTCARD] Just Graduated~

Here we comeee~~
Postcard  Series "Just Graduated" 
8 different designs
IDR 25K /series
each IDR 4K

for order
@ameadelia
Ade Amelia
085718114477



 available in artpaper 280 gr



Wednesday, February 5, 2014

Diam

Keluh kesahmu,
Galaumu,
Risaumu,
Cukup hanya kamu dan Allah yang tahu

Doakan ia dalam diam
Simpan rapat dan jaga perasaan itu
Hingga sampai waktu yang telah Ia tentukan

Jika kamu bisa bersabar
Kamu akan mengetahui ia akan indah,
sangat indah pada waktunya

Ingat,
Peluk rasa itu dalam diam
Percayalah,
Yakinlah,

Bukankah Allah pengatur skenario yang paling baik?

Sunday, December 22, 2013

Laut - Goenawan Mohamad


Siapa terpukau laut, tak akan membangun monumen. Nenek-moyang kita, para pelaut — generasi-generasi yang berlayar dari pelbagai pesisir — tak meninggalkan arsitektur yang ingin mengenang dan ingin dikenang di bandar dan pantai mereka.
Laut adalah “tujuan biru”, menurut frase Chairil Anwaryang tak terduga-duga. Tapi kita tahu, “biru”adalah warna dari segala yang jauh. Dengan kata lain, laut pada akhirnya ruang yang tanpa hektar, di mana arah dan perbatasan hanya tampak pada susunan bintang, dan ombak, yang tak terhitung,muncul dan lewat terus menerus. Seperti kekal. Saya tak pernah tahu di mana cakrawala dibatasi waktu di keluasan itu.
Mungkin itu sebabnya, dalam imajinasi, terkadang laut adalah metafor bagi pembebasan dari beban sejarah.Laut melebur segala pusaka.
Kita baca kembali sajak S. Takdir Alisyahbana, “Menuju Ke Laut”. Di sana tergambar sebuah biduk yang meninggalkan masa lalu. “Telah kutinggalkan engkau,” katanya, “teluk yang tenang tiada beriak.” Teluk itu perlindungan yang memperdaya dan mengungkung. Takdir menampiknya. Ia ingin generasinya lepas dari sana dan memasuki laut, ke dalam kehidupan yang dinamis, karena “teluk yang tenang tiada beriak” itu cuma sebuah ketentaraman warisan yang kadaluwarsa. Modernitas telah menggebrak pintu. Tradisi, adat istiadat, yang berabad-abad jadi dasar hidup yang aman itu sedang digantikan dengan sesuatu yang lebih terbuka dan mengasyikkan.
Takdir menggambarkan laut sebagai keasyikan tersendiri. Ia menyebut “ombak ria berkejar-kejaran”. Ia tak menampakkan laut sebagai ruang petualangan dan ketidak-pastian. Ia, yang percaya bahwa sastra harus mengkampanyekan hal yang baik, (baginya tak ada “seni untuk seni”), ingin agar dunia modern tampil memikat. Takdir bukan orang yang akan mengatakan bahwa modernisasi memperkenalkan manusia dengan krisis: penuh risiko, penuh peluang. Ia tak hendak mengakui bahwa laut bisa jadi kiasan bagi krisis itu. Sajaknya ditulis sebelum Revolusi 1945.
Di tahun 1940-an, Rivai Apin menulis:
Tiada tahan
ke laut kembali, mengembara
cukup asal ada bintang di langit
Berbeda dengan imaji yang dipilih Takdir, dalam sajak Rivai laut adalah avontur yang menantang, sebuah rantau yang riskan. “Aku” dalam sajak ini siap menghadapi, bahkan mencari,”taufan gila.” Yang kita baca adalah sebuah manifesto pembangkangan terhadap sekitar, terhadapmasyarakat yang seperti fosil.”Batu semua!”, hardik Rivai. Ada kejengkelan yang tak kita temukan dalam sajak teratur S. Takdir Alisyahbana. Bagi Rivai, apa yang kukuh, keras, beku, tak hanya harus ditinggalkan, tapi juga dimaki.
Tapi di sini kita juga bisa tersesat. Laut dalam sajak-sajak itu — yang ditulis penyair perantau, bukan pelaut sesungguhnya — seakan-akan tak ada kaitannya dengan ruang yang lain, yang lebih terkait dengan masa silam: jung atau biduk, perahu atau kapal, di mana sang “aku” berada.
Kapal adalah bagian dari petualangan, tapi ia juga tak bersatu lebur dalam wilayah petualangan itu. Ia bahkan sebuah kontras. Dalam kapal itulah sebenarnya hidup bukan selamanya penjelajahan yang heroik.Dalam kapal, untuk mamakai kata-kata Chairil Anwar (dalam sajak “Kabar dari Laut”), “hidup berlangsung antara buritan dan kemudi”.
Bahkan jika laut bisa dijadikan kiasan kemerdekaan, kapal sebaliknya. “Berada dalam kapal adalah berada dalam penjara”, kata Samuel Johnson, penulis Inggris abad ke-18.
Imajinasi orang ini agak terbatas. Johnson seorang penyusun kamus yang termashur; ia bukan penyair. Tapi kata-katanya mengingatkan kita kenyataan ini: kapal juga produk dari hubungan sosial.Ada pemilik dan majikan, ada jual-beli, hierarki, dan kelasi yang terasing atau mualim yang tak bebas.
Kapal juga sesuatu yang hadir dan menandai bahwa daratan tak dapat dipungkiri. Tiap pelaut akan berlabuh. Kapal menyimpan ingatan, bukan cuma di kabin nakhoda, tapi di seluruh kehadirannya. Ada kemarin yang akan, dan perlu, dijelang kembali. Dengan monumen ataupun tidak.
Tapi apa yang perlu diingat, sebenarnya? Apa yang ingin dilupakan? Setelah bahtera kembali, para pelaut mungkin tak berniat membangun monumen tentang perjalanan mereka yang gagah berani dan bersejarah mengarungi laut. Tapi selalu ada saat manusia memuji yang agung dan memuja yang kekal dalam dirinya. Persoalannya, adakah ia mengakui bahwa ada yang tersingkir di tengah puja-puji itu. Di pesisir yang kering, kita mungkin ditinggalkan, tersingkir, atau tak sadar bahwa kita juga bisa tersingkir.
Di akhir sajak “Kabar Dari Laut” Chairil Anwar memergoki siapa saja dengan pertanyaan yang seperti sebilah pisau bedah:
Dan kau? Apakah kerjamu sembahyang dan memuji,
Atau di antara mereka juga terdampar,
Burung mati pagi hari di sisi sangkar?
Goenawan Mohamad

sumber: http://goenawanmohamad.com/2013/11/16/laut/
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...