Monday, January 30, 2017

Karcis Suplisi Saya Mana? Pengalaman Kena Denda Hilang Tiket Commuter Line

Saya sering bepergian dengan Commuter Line. Sejauh ini, saya tidak mengalami kendala tertentu karena menurut saya pelayanan Commuter Line sudah sangat baik dan menjangkau hampir semua daerah Jabodetabek. Sangat efektif dan cepat untuk bepergian dengan kendaraan umum. Enaknya lagi, gak bakal kena macet, kecuali antrian masuk stasiun yang kadang kelamaan juga hehe..

Tanggal 29 Januari 2017 saya mengalami kejadian apes. Saya mau pulang dari stasiun Manggarai menuju Lenteng Agung. Sesampainya saya di stasiun tujuan, tiket Kartu Multi Trip (KMT) saya hilang entah kemana. Saya cari-cari kok tidak ketemu. Saya lapor ke satpam petugas tiket, mereka bilang agar saya cari terlebih dulu karena konsekuensinya kena suplisi Rp. 50.000,00.

Waduh,lumayan juga, pikir saya. Saya habiskan 10 menit untuk acak-acak tas di depan pintu tiket, tetap gak ketemu. Petugas menyarankan saya untuk menepi ke ruang jaga petugas di sebelah Alfamart agar saya lebih leluasa membongkar isi tas saya. Akhirnya saya masuk ke ruangan tersebut dan memilah stau persatu barang di dalam tas dan dompet. Memang lagi sial ketiban sial, KMT saya tetap gak ketemu, padahal saldo masih lumayan banyak, harus bayar denda pula.

"Sudah peraturannya begitu, mbak. Saya juga engga enakan kalau sama customer mah".

Sambil saya cari-cari petugasnya bilang, "kalau ada struk isi ulang KMT mungkin masih bisa diurus mbak. Kalau belinya seminggu lalu gitu bisa dilacak. Struk tuh penting juga mbak."

Oh, gitu toh. Saya cari-cari struk juga akhirnya (emang hobinya simpen-simpen struk dalem dompet) dan ketemu! Tanggal belinya 14 Januari 2017, berarti 2 minggu yang lalu, saya isi Rp. 50.000,-.

"Pak, ketemu nih Pak, terus gimana?" Ada no kartu saya tertera di kertasnya. Apa mungkin bisa dilacak? Caranya gimana? Saya bertanya-tanya.

"Wah, udah lama Mbak, udah ga bisa.. Kalau 2-3 hari yang lalu tuh baru bisa keliatan. Kan ada buktinya di CCTV kalau beli karcis." Tadi bilangnya seminggu, sekarang 2-3 hari.

Hemm.. ngelacaknya pakai apa? Masa liatin CCTV gitu? Trus tindak lanjutnya tetap denda kan? Saya batin dalam hati.

"Wah apes banget dong ya pak kalau ada yang kecopetan dompet dan KMT nya. Udah hilang tiket, ga bisa bayar denda juga. Kalau ada kejadian kayak gitu gimana Pak?" Tanya saya iseng.

"Yaa. Peraturannya begitu sih Mbak. Saya juga gimana bingung nanti bilangnya ke atasan saya nanti. Soalnya keliatan di CCTV mbak kalau saya kasih juga. Kalau ga jalanin sesuai prosedur, nanti kita kena omel, bisa dipecat, cari kerjaan kan susah mbak. Meskipun orangtua saya hilang nih tiketnya, ya tetap saya kasih sesuai peraturan."

Untungnya masih ada duit sebesar denda, kalau engga ada, gak ngerti lagi mesti gimana.

"Trus yaudah Pak daripada saya gak pulang-pulang kan, saya bayar suplisinya aja. Bayarnya dimana?"

"Yaa bayar di sini mbak." Kata petugasnya, yang berarti saya gak bayar di ticketing seperti yang saya bayangkan. Saya harus bayar di ruang jaga satpam. Saya mulai curiga, ga rela keluarin uang lima puluh rebu tanpa ada proses atau bukti bayarnya.

"Bukti bayarnya mana Pak? Masa saya keluarin uang gitu aja kasih ke Bapak."

Petugasnya saat itu bilang, katanya biasanya ada karcisnya, tapi di ruangan itu katanya karcisnya lagi habis, kosong. "Biasanya kayak gini mbak karcisnya", sambil kasih lihat saya segepok karcis suplisi tapi nominalnya Rp.5000,-. "Kalau engga saya kasih ini aja apa mbak?"

"Lah Pak, nominalnya aja bedanya 10 kali lipat, masa saya bayar denda Rp. 50.000,-, tapi karcisnya cuma goceng?? Cari dulu Pak, saya tungguin" Nada ngomong saya masih bercanda, tapi mulai kesel juga. Petugas yang satunya mulai cari-cari di sekitar meja ruangnya, yang satu lagi cari keluar ruang jaga. Gak lama kemudian petugasnya kembali ke ruang jaga, katanya engga ketemu, karcisnya engga ada. "Iya mbak, karcisnya habis, engga stock, trus kan jarang-jarang juga Mbak yang kartunya hilang kayak Mbak." Hemph.. diantara ribuan orang pengguna commuter line kemungkinan kartu hilang bakal selalu ada kan?

Saya tetep ngotot mau pakai bukti bayar. Saya sampai minta pakai kwitansi biasa, atau bayar di ticketing saja biar clear. Masa prosedur kayak gini mereka gelapan?

"Nah kalau misalkan saya bayar, terus pertanggung jawaban mas nya ke atasan kalau ada yang bayar denda gimana? Bukti karcisnya kan buat bukti juga, masuk sistem laporan dong mestinya" Sanggah saya.
"Nanti mah itu tulis di buku laporan aja Mbak"
"Nah, kayak gini gue males, lo aja yang urus" kata salah satu petugas ke temennya. Agak menggerutu tapi tetep kedengeran kuping saya.

Saya lalu dipersilahkan keluar ruang jaga, masuk stasiun lagi dengan kartu petugas, di persilahkan keluar di pintu satunya. Di ujungnya, sudah ada 2 petugas, salah satunya yang tadi kesannya males ladenin permintaan struk saya. Dia cuma tanya ke saya: "Udah mbak? tadi udah mbak?"

"Apanya yang udah?? Karcis saya gak keluar. Ya belum saya bayar dendanya"

"Emangnya buat apa sih mbak karcisnya? Buat di rembeurs kantor gitu mbak? Karcisnya engga ada mbak. Kalau mbak ga mau bayar, ya terserah mbak aja sih."

Terserah-Mbak-Aja. Statement yang cukup malesin. Saya cuma minta bukti bayar, bukannya ga mau bayar denda.

"Saya cuma mau prosedur yang jelas kalau saya bayar denda. Kalau karcisnya habis, itu kelalaian petugas dong. Daritadi bapak bilang prosedur, peraturan, ketentuan, masa kayak gini saja lalai. Kalau saya bayar denda, trus pertanggung jawaban bapak ke atasan caranya gimana? Suplisi Rp.5000,- aja ada karcisnya, masa yang Rp. 50.000,- tinggal kasih aja. Uangnya lumayan loh Pak" Serobot saya dengan kesel memuncak.

Saya cuma mikir, kalau ada 10 orang kayak saya aja, tanpa bukti bayar, uang dendanya entah kemana larinya. Entah kenapa beragam alasan mereka ngotot ga ada karcis suplisi. Permintaan saya ga neko-neko, yang semestinya mereka persiapkan juga sebagai prosedur malah ga ada. Pentingnya bukti bayar di toko-toko kan sampai menggratiskan belanjaan kalau struk belanjanya ga dikasih. Nah ini piye..?

Petugas yang satunya lagi, yang agak kalem, tadinya juga mempertanyakan kepentingan saya ngotot pakai karcis. Lalu, dia minta saya tunggu, dia lari ke seberang, masuk ke kantor (bukan ruang jaga), lalu gak lama kemudian keluar dengan karcis suplisi bernominal Rp. 50.000,-, segepok! Segepok!

"Nih ada Mbak, kayak gini ya Mbak?"
Duh, mas-mas itu di cari ada kok ya...

Akhirnya petugas itu menulis tanggal di karcis, pakai paraf. Deretan nomer di sebelah kanan kartunya dia robek dan simpen, robekan besarnya buat saya.
"Nah gitu dong Pak, apa susahnya sih cari karcisnya." Kata saya sambil menyesalkan kejadian tadi karena saya ngabisin waktu ngotot-ngototan doang sampai 20 menitan.

Yang saya engga ngerti, kenapa petugas ngotot banget karcisnya habis, jarang dipakai, engga ada, sementara sebenarnya commuter line sudah menyiapkan prosedur untuk itu. Ajaib dan cukup menghabiskan waktu saya. Saya percaya kalau sistem commuter line sudah semakin baik, tapi mohon untuk urusan seperti ini, apalagi menyangkut masalah uang, mohon perhatikan lagi. Saya sebagai pengguna setia commuter line kok agak kecewa juga. Mau gak mau, saya berpikiran negatif tentang pemakaian uang denda yang saya kasih ke petugas kan? Celah-celah seperti ini masih terjadi dan peluangnya besar untuk dimanfaatkan beragam pihak. Pelajaran juga khususnya untuk  petugas stasiun Lenteng Agung. Mohon karcis suplisinya ditaro di tempat yang bener biar gak hilang lagi :p


1 comment:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...