Monday, July 10, 2017

Being Success or Failed

It is time for me to letting my Chevening scholarship gone, as I don't get any reply from my university about my uncoditional LOA. I feel really sad, but deep in my heart I've been blame myself for my pessimistic side.

Chevening is my first scholarship which I'm applied to. I wrote down my essay in 5 hours, uploaded it in the last day. Only miracle letting me get my interview invitation, even get my conditional award. Until one of my worry happened. Ready or not, I have to apply for the university which have a really high standard. Once again, I'm not that confidence. If not because of the Chevening requirement, I won't get my courage to spend more IDR 1 million to get my application done.

Until now, two more days, or else my scholarship will be handed to the reserved awardee. I promised myself I won't cry. 1 month feels like longer than a year. Two days will be my nerve-wrecking moment. Meanwhile, I should be grateful enough I'm preparing for my summer school at TU Delft, NL.

My pray everyday, only God know the best. I've tried, eventhough I know I'm not trying that hard. If my decision can affect and be a positive change even to my surroundings, then God know it will be my new learning proccess. If its only have benefit for myself, I hope I won't get it.

I'm writing this as my healing proccess, as I know I'm growing up writing my everyday moments. I won't forget this time of my life, since it be my important point in my life. Should I get my master degree? Should I lost it to earning more money?

Atleast, I have tried, than dreaming about it all day not doing anything.

Wednesday, July 5, 2017

Hope for Miracle

Waiting for miracle is the best feeling in the world...
You will be nervous from time to time,
waiting something good happen to you.
When the time is coming,
You can't imagine how you really grateful for the moment
Only in the second, you will forget the hardship you've been through
You will make it as the sweet fruit for all of your sacrifice

Every moments, whether its bad or good, should be cherish all the time.
And keep believing we will have a beautiful result in the end of our time
That's how we hold on for our life and after

Keep believing, Lia
You will know when the time is right

Saturday, May 27, 2017

Kartu Ucapan Untuk Keluarga

Well, people posting about all good things happened in their life: where they travelling, whom they met on their working place, share photos with their lover, and kids who just born. I'm lying if I said I'm not jealous. I'm not the type of people who updating all of my life moments, but people do asking me what I'm doing all this time. I am good, and feel content, I assured that. Now I'm enjoying interact with children who honestly express themselves.

If you ask me what is the most successful point of my life, It just happened yesterday. Seri Seni, a community I've been organizing for a half year, did something great. We held a workshop about how to make a greeting card for their love ones. The idea of activity itself come from children, but the concept inspired by a book: "Thinking Hand" by  Juhani Pallasmaa (Thanks to Pia :p). Hand as our precious tool of our body, conveys our mental image, our fondest hope and memory, into muscular activity, then processing the message to the outside of our mind. As a result, the outcome could be understood by the people who shares the same experience. It is great by how our mind and body intertwined in the process of conveying our feelings. That is why, there are no things that could replace the sincerity of drawings by hand.

They were tracing their own hand on a piece of paper, making it a 'love' shape in the middle of it so that they can write a message on it. The outcome is pretty and they were really ambitious of what they create. Even when the time is up, they are still busy decorating their greeting card.

The activity is done, and they gave it to the person they love the most. After posting some of pictures to their whatsapp group, one of their mother said that it made her touched by the message. Well, the message drawn by hand had conveyed and even touched their heart. I feel like I'm doing good today and it can fuel my energy for a whole week.













Monday, May 8, 2017

Tahap Partisipasi Warga dalam Kegiatan LabTanya




Pada saat perkuliahan, saya berlatar belakang interior dan jarang membahas tentang konteks kota. Kota, menjadi ruang bermain yang sangat besar di kepala saya. Interaksi manusia dengan ruang kota dan sebab akibat yang melatarbelakanginya menjadi hal yang benar-benar baru saya pelajari.

Beberapa proyek LabTanya yang berhubungan dengan kota pun sempat saya ikuti. Tantangan setiap kegiatan tentu berbeda, namun ada beberapa hal yang bisa saya ambil hikmahnya. Kegiatan tersebut antara lain A[park]ment, CaPing Tanpa Sampah, dan SERABI. Lingkup masing-masing proyek bervariasi. Jika A[park]ment menyasar komuter yang bekerja di pusat kota dan tinggal di suburban, CaPing Tanpa Sampah fokus hanya di satu lingkup rukun warga., sedangkan SERABI bermain dengan konteks kota suburban yaitu: Bintaro

Ketiga proyek ini memiliki tantangan dengan metode partisipasi. Jika biasanya arsitek mendesain dengan pertimbangan pemikirannya dan klien ditambah dengan penjajakan seperlunya, maka dalam metode partisipasi ini tentu harus lebih sabar untuk belajar. Belajar apa? Belajar untuk menahan ego dan mengerti bahwa ada hal yang bisa didapat kalau kita benar-benar sabar. Menjadi warga, bukan arsitek. Menjadi teman, bukan sebagai arsitek. Banyak hal yang bisa kita pelajari dari warga. Menahan diri untuk tidak terjebak dalam anggapan-anggapan praktis. Membuka mata lebih lebar untuk bisa menemukan sesuatu. Membuka diri dan hati, membuat sudut pandang baru dari beragam sisi. Juga belajar untuk melihat peluang, melihat kebaikan atas sesuatu, bukan melulu fokus terhadap masalah yang harus diselesaikan. Proyek-proyek ini tentu bukan produk langsung jadi untuk bisa diterima. Justru dari penolakan-penolakan saya belajar. Memulai metode partisipasi dari awal memang sulit. Namun dari kesulitan justru kita menemukan pembelajaran baru, bukan sebagai kegagalan.

Mengapa harus dengan metode partisipasi?
Partisipasi memiliki kekuatan dengan bagaimana keputusan-keputusan dilakukan dengan pertimbangan dari yang menjalani kebijakan. Mendesain dengan metode partisipasi memiliki kedekatan yang intim dengan pelaku itu sendiri. Hal ini membuat para pelaku yaitu warga, menjadi mandiri dan dapat dengan fleksibel beradaptasi. Selain itu, kebijakan-kebijakan apapun yang dibuat tanpa partisipasi warga dikhawatirkan tidak berkelanjutan, sebaik apapun kebijakan itu dibuat. Selain itu, inisiatif yang terbentuk tentu akan memiliki ciri khas, sesuai dengan budaya masyarakat setempat dan akan menjadi sesuatu yang kaya untuk disebar dan dipelajari.

Metode partisipasi ini sebelumnya saya pelajari dalam materi perkuliahan. Beragam teori mengacu tentang bagaimana sekelompok masyarakat memiliki tahapan-tahapan tersendiri sehingga kita harus beradaptasi dengan tahap tersebut. Perlakuan yang diberikan pun berbeda-beda. Selama melakukan proyek LabTanya, kami selalu memikirkan tentang seluas apa proyek ini akan berjalan, siapa target sasarannya, dalam kurun waktu berapa lama, dan kemampuan masyarakat untuk bisa merespon program yang kami usulkan.

Menurut Sherry R Arnstein tentang “Ladder of Citizen Participation”, masyarakat memiliki 8 tahapan sebelum menuju ke aktivasi warga yang sesungguhnya.

The bottom rungs of the ladder are (1) Manipulation and (2) Therapy. These two rungs describe levels of "nonparticipation" that have been contrived by some to substitute for genuine participation. Their real objective is not to enable people to participate in planning or conducting programs, but to enable powerholders to "educate" or "cure" the participants. Rungs 3 and 4 progress to levels of "tokenism" that allow the havenots to hear and to have a voice:
(3) Informing and (4) Consultation. When they are proffered by powerholders as the total extent of participation, citizens may indeed hear and be heard. But under these conditions they lack the power to insure that their views will be heeded by the powerful. When participation is restricted to these levels, there is no follow-through, no "muscle," hence no assurance of changing the status quo. Rung (5) Placation is simply a higher level tokenism because the ground rules allow have-nots to advise, but retain for the powerholders the continued right to decide.
Further up the ladder are levels of citizen power with increasing degrees of decision making clout. Citizens can enter into a (6) Partnership that enables them to negotiate and engage in trade-offs with traditional power holders. At the topmost rungs, (7) Delegated Power and (8) Citizen Control, have-not citizens obtain the majority of decision-making seats, or full managerial power.”

Jika ditelisik dari teori ini dan dihubungkan dengan kegiatan LabTanya, secara garis besar yang kami lakukan adalah dalam tahap “informing” dan “consultation”. Meskipun dalam detailnya ada banyak tahapan yang mungkin tidak disebut, namun secara sederhana kedua praktik itu yang lebih banyak disorot. Warga yang kami libatkan kebanyakan adalah warga Bintaro, yang notabene adalah warga dengan tingkat ekonomi menengah keatas dan berpendidikan tinggi. Kebanyakan adalah para praktisi atau pensiunan yang bergerak di macam-macam bidang. Tentu memiliki tantangan tersendiri karena tidak seperti program partisipasi yang biasanya bertempat di masyarakat marginal. Awalnya meskipun memiliki sambutan antusias, namun belum banyak yang membangun kegiatan ini dengan kesadaran ‘aktivasi warga’. Jadi kurang lebih pada tahap awal satu tahun kegiatan LabTanya, yang kami lakukan adalah menggali informasi sebanyak-banyaknya dan menyebarkannya pada sasaran yang tepat. Menggali informasi terlebih dahulu menjadi satu strategi komunikasi untuk menawarkan inisiatif sesuai fakta yang dekat dan dapat dirasakan langsung oleh warga.

Misalkan dalam kegiatan CaPing Tanpa Sampah, sebelum bertemu dengan warga, kami menggali informasi dahulu sebanyak mungkin tentang jumlah sampah yang dihasilkan di lingkungan mereka. Kami juga melakukan kunjungan ke TPA yang menampung sampah warga. Memetakan gerobak pengepul dan jenis sampah apa saja yang diterima menjadi tawaran kepada warga untuk bisa lebih mudah mengikuti kegiatan. Selain itu, mendapatkan para relawan yang mau dihitung sampah hariannya dan diuji coba dalam praktek mengurangi sampah menjadi contoh bagi warga lain. Informasi ini terus dikumpulkan dan disebar pada waktu dan sasaran yang tepat. Sehingga pada tahun pertama ini yang terus dilakukan adalah memetakan informasi.

Metode komunikasi menjadi satu hal yang penting untuk menyampaikan maksud dan tujuan tanpa terkesan memberi tugas besar dan merepotkan bagi warga. Dalam tahap ini hubungan dua arah menjadi hal krusial. Tak hanya menyampaikan inisiatif, namun juga membuka diri untuk menyerap ilmu sebanyak-banyaknya. Mengikuti kegiatan warga menjadi salah satu metode untuk tahap awal agar mengerti budaya warga setempat dari kacamata mereka.

Selagi menggali informasi dari warga, menemukan orang-orang sebagai “kunci” juga menjadi salah satu sorotan penting memulai inisiatif. Dalam prosesnya, orang-orang yang memiliki kesamaan motivasi dan bisa diandalkan dalam kelompoknya menjadi pendorong utama untuk memulai inisiatif. Biasanya juru kunci ini menjadi seseorang yang menjabat di lingkungannya, meskipun tidak selalu demikian. Memegang kepercayaan juru kunci ini juga merupakan akses yang cukup membantu untuk keberlanjutan program.

Dalam proyek SERABI, kami bekerjasama dengan beragam komunitas di Bintaro. Tak bisa dikatakan mudah pada awalnya. Beberapa inisiatif memang belum ditanggapi dengan serius. Mungkin terkendala dengan prioritas komunitas itu sendiri. Namun, kami rasa ketika bekerjasama dengan pemuda-pemuda karang taruna Pondok Pucung, Arseda, kami melihat adanya potensi keberlanjutan karena mereka sudah memiliki pondasi yang kuat sebagai suatu perkumpulan. Mungkin karena pemuda-pemuda tersebut memiliki ikatan yang kuat dengan lingkungannya, maka dalam tahap ini LabTanya hanya masuk dalam tahap ‘consulting’. Mereka sudah memiliki inisiatif awal, namun terkendala kegiatan lanjutan. Disini proses pendekatan kurang lebih sama dengan proyek Kota Tanpa Sampah yaitu mengikuti acara ‘nongkrong’nya. Selanjutnya kerjasama berjalan karena Serabi dan Arseda saat itu memiliki tujuan yang sama. Maksud inisiatif dapat tersampaikan karena sudah masuk dalam satu frekuensi. Lebih detailnya, memang terdapat “juru kunci” dalam komunitas Arseda yang dipandang sebagai sosok pemimpin dan inisiator. Juru kunci inilah yang bisa mendorong inisiatif sampai ke titik partisipasi.

Banyak potensi yang ada di lingkungan Bintaro terkait dengan kegiatan yang kami lakukan. Namun, tantangan selanjutnya adalah bagaimana program ini dapat berlangsung secara keberlanjutan. Banyaknya pensiunan di lingkungan kami serta pekerja yang bolak-balik Jakarta-Bintaro, menemukan pemuda-pemuda sebagai penerus kegiatan ini tentu bukan pekerjaan yang mudah. Dari beberapa hal yang kami diskusikan dalam Ngobrol Serabi: Potensi Bintaro, keputusan warga untuk tidak ikut serta dalam beragam kegiatan selain bekerja dan urusan keluarga adalah banyaknya waktu yang mereka habiskan dalam perjalanan sebagai komuter. Hal itu menyebabkan kurangnya waktu mereka di rumah dan waktu akhir pekan yang banyak dihabiskan untuk berjalan-jalan di pusat perbelanjaan atau di rumah. Hal ini yang lebih lanjut lagi kami temukan sebagai kemungkinan penyebab beragam komunitas kreatif di Bintaro kurang berjalan aktif.

Terkait dengan perjalanan rumah-kantor para komuter di Bintaro yang menyebabkan tidak ada waktu untuk warga berkumpul dengan komunitas, saya teringat tentang proyek A[park]ment. A[park]ment memiliki isu utama yaitu bagaimana kota belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan ruang bagi warganya. Dengan menggunakan mobilitas komuter sebagai salah satu bahan kajian, ternyata masalah laten Jakarta seperti kemacetan terjadi karena urutan kejadian yang saling berhubungan. Menjadi komuter, selain berpengaruh kepada kota yang dituju sebagai tempat bekerja, juga dapat berpengaruh ke budaya pekerja itu sendiri di lingkungan tempat tinggalnya. Mungkin kedekatan antara tempat bekerja dan tempat tinggal juga berperan dalam bagaimana warga dapat menempatkan diri untuk berkumpul, berinisiatif dan berpartisipasi di lingkungannya. Hal tersebut menjadi suatu poin yang dipertimbangkan untuk mengidentifikasi tahapan lingkungan akan suatu partisipasi warganya.

Tahapan dari partisipasi warga ini mungkin memiliki variabel yang berbeda-beda di setiap tempat. Untuk dapat mencapai partisipasi aktif warga memang perlu dilakukan beragam motivasi. Akan lebih tepat sasaran apabila motivasi tersebut muncul dari galian-galian informasi yang bisa dipetakan dengan baik. Informasi yang telah kita dapatkan bisa menjadi suatu tawaran sehingga inisiatif ini dapat direspon oleh warga, baik berupa saran dan kritik. Saran dan kritik inilah yang sebenarnya penting dalam urbanisme warga, yaitu berkumpul untuk musyawarah dan berdiskusi, membahas suatu isu dan potensi, menyampaikan pengetahuan ke generasi selanjutnya. Jika minimal budaya menggali informasi, menyebarkan, dan berkumpul ini kembali mengakar, maka itulah salah satu pintu untuk mendorong warga kembali aktif berinisiatif.

Friday, April 21, 2017

Mungkinkah Kau Tahu Jawabnya?


I just found out that Payung Teduh remaking their songs full with Yamaha live instruments!
Lovely, romance in the rain season is strong with this song~
Ah, I can't even leaving for one second once the song played

"Atau kau ingin aku
berteriak sekencang-kencangnya
agar seluruh ruangan ini
bergetar oleh suaraku"


Friday, April 14, 2017

 
A: Creators (Artistic)
People of this type are creative, intuitive, sensitive, expressive, unstructured, original, nonconforming, and innovative, spontaneous and open-minded. They are eager to create something new, something beautiful and have an impact of many people’s minds with their creations.
S: Helpers (Social)
This type of people are kind, generous, cooperative, patient, caring, helpful, empathetic, and friendly. They find it important to help people and they value work with others a lot. 
 
E: Persuaders (Enterprising)
People who have a stronger feature of this type are adventurous, ambitious, assertive, confident, extroverted, energetic, enthusiastic, optimistic, dominant, persuasive, and motivational. They become good leaders, they are good in engaging with people and inspiring them to follow them. They are not afraid of taking risks and playing the main role in what they do.
 

Tuesday, February 28, 2017

Will Never Forget


Posting this because I'm a little bit mellow today.

Yesterday my dearest uncle has passed away and I really shocked because we rarely meet for this past two years. He is the only one uncle that shared the same interest a cat lovers. All he talked about was about cats and cats. The way he babbling about it was really funny, adorable and it was added by how talkative he was. Gosh, I will miss the days when he and my aunt had quarrel because of the simplest things.

May God bless him and forgive all of his mistakes.
May he through the easy road to heaven.
Al-Fatihah...

Thursday, February 16, 2017

Good News for Today



Waking up to this wonderful feeling,
and instant cry of happiness and worry-to-death!
No, its not final result, yet I have to completing the application process and interview session.
I want to keep posting about this roller coaster journey

Preparing for a lot of things from now on!
Cheerssss

Monday, January 30, 2017

Karcis Suplisi Saya Mana? Pengalaman Kena Denda Hilang Tiket Commuter Line

Saya sering bepergian dengan Commuter Line. Sejauh ini, saya tidak mengalami kendala tertentu karena menurut saya pelayanan Commuter Line sudah sangat baik dan menjangkau hampir semua daerah Jabodetabek. Sangat efektif dan cepat untuk bepergian dengan kendaraan umum. Enaknya lagi, gak bakal kena macet, kecuali antrian masuk stasiun yang kadang kelamaan juga hehe..

Tanggal 29 Januari 2017 saya mengalami kejadian apes. Saya mau pulang dari stasiun Manggarai menuju Lenteng Agung. Sesampainya saya di stasiun tujuan, tiket Kartu Multi Trip (KMT) saya hilang entah kemana. Saya cari-cari kok tidak ketemu. Saya lapor ke satpam petugas tiket, mereka bilang agar saya cari terlebih dulu karena konsekuensinya kena suplisi Rp. 50.000,00.

Waduh,lumayan juga, pikir saya. Saya habiskan 10 menit untuk acak-acak tas di depan pintu tiket, tetap gak ketemu. Petugas menyarankan saya untuk menepi ke ruang jaga petugas di sebelah Alfamart agar saya lebih leluasa membongkar isi tas saya. Akhirnya saya masuk ke ruangan tersebut dan memilah stau persatu barang di dalam tas dan dompet. Memang lagi sial ketiban sial, KMT saya tetap gak ketemu, padahal saldo masih lumayan banyak, harus bayar denda pula.

"Sudah peraturannya begitu, mbak. Saya juga engga enakan kalau sama customer mah".

Sambil saya cari-cari petugasnya bilang, "kalau ada struk isi ulang KMT mungkin masih bisa diurus mbak. Kalau belinya seminggu lalu gitu bisa dilacak. Struk tuh penting juga mbak."

Oh, gitu toh. Saya cari-cari struk juga akhirnya (emang hobinya simpen-simpen struk dalem dompet) dan ketemu! Tanggal belinya 14 Januari 2017, berarti 2 minggu yang lalu, saya isi Rp. 50.000,-.

"Pak, ketemu nih Pak, terus gimana?" Ada no kartu saya tertera di kertasnya. Apa mungkin bisa dilacak? Caranya gimana? Saya bertanya-tanya.

"Wah, udah lama Mbak, udah ga bisa.. Kalau 2-3 hari yang lalu tuh baru bisa keliatan. Kan ada buktinya di CCTV kalau beli karcis." Tadi bilangnya seminggu, sekarang 2-3 hari.

Hemm.. ngelacaknya pakai apa? Masa liatin CCTV gitu? Trus tindak lanjutnya tetap denda kan? Saya batin dalam hati.

"Wah apes banget dong ya pak kalau ada yang kecopetan dompet dan KMT nya. Udah hilang tiket, ga bisa bayar denda juga. Kalau ada kejadian kayak gitu gimana Pak?" Tanya saya iseng.

"Yaa. Peraturannya begitu sih Mbak. Saya juga gimana bingung nanti bilangnya ke atasan saya nanti. Soalnya keliatan di CCTV mbak kalau saya kasih juga. Kalau ga jalanin sesuai prosedur, nanti kita kena omel, bisa dipecat, cari kerjaan kan susah mbak. Meskipun orangtua saya hilang nih tiketnya, ya tetap saya kasih sesuai peraturan."

Untungnya masih ada duit sebesar denda, kalau engga ada, gak ngerti lagi mesti gimana.

"Trus yaudah Pak daripada saya gak pulang-pulang kan, saya bayar suplisinya aja. Bayarnya dimana?"

"Yaa bayar di sini mbak." Kata petugasnya, yang berarti saya gak bayar di ticketing seperti yang saya bayangkan. Saya harus bayar di ruang jaga satpam. Saya mulai curiga, ga rela keluarin uang lima puluh rebu tanpa ada proses atau bukti bayarnya.

"Bukti bayarnya mana Pak? Masa saya keluarin uang gitu aja kasih ke Bapak."

Petugasnya saat itu bilang, katanya biasanya ada karcisnya, tapi di ruangan itu katanya karcisnya lagi habis, kosong. "Biasanya kayak gini mbak karcisnya", sambil kasih lihat saya segepok karcis suplisi tapi nominalnya Rp.5000,-. "Kalau engga saya kasih ini aja apa mbak?"

"Lah Pak, nominalnya aja bedanya 10 kali lipat, masa saya bayar denda Rp. 50.000,-, tapi karcisnya cuma goceng?? Cari dulu Pak, saya tungguin" Nada ngomong saya masih bercanda, tapi mulai kesel juga. Petugas yang satunya mulai cari-cari di sekitar meja ruangnya, yang satu lagi cari keluar ruang jaga. Gak lama kemudian petugasnya kembali ke ruang jaga, katanya engga ketemu, karcisnya engga ada. "Iya mbak, karcisnya habis, engga stock, trus kan jarang-jarang juga Mbak yang kartunya hilang kayak Mbak." Hemph.. diantara ribuan orang pengguna commuter line kemungkinan kartu hilang bakal selalu ada kan?

Saya tetep ngotot mau pakai bukti bayar. Saya sampai minta pakai kwitansi biasa, atau bayar di ticketing saja biar clear. Masa prosedur kayak gini mereka gelapan?

"Nah kalau misalkan saya bayar, terus pertanggung jawaban mas nya ke atasan kalau ada yang bayar denda gimana? Bukti karcisnya kan buat bukti juga, masuk sistem laporan dong mestinya" Sanggah saya.
"Nanti mah itu tulis di buku laporan aja Mbak"
"Nah, kayak gini gue males, lo aja yang urus" kata salah satu petugas ke temennya. Agak menggerutu tapi tetep kedengeran kuping saya.

Saya lalu dipersilahkan keluar ruang jaga, masuk stasiun lagi dengan kartu petugas, di persilahkan keluar di pintu satunya. Di ujungnya, sudah ada 2 petugas, salah satunya yang tadi kesannya males ladenin permintaan struk saya. Dia cuma tanya ke saya: "Udah mbak? tadi udah mbak?"

"Apanya yang udah?? Karcis saya gak keluar. Ya belum saya bayar dendanya"

"Emangnya buat apa sih mbak karcisnya? Buat di rembeurs kantor gitu mbak? Karcisnya engga ada mbak. Kalau mbak ga mau bayar, ya terserah mbak aja sih."

Terserah-Mbak-Aja. Statement yang cukup malesin. Saya cuma minta bukti bayar, bukannya ga mau bayar denda.

"Saya cuma mau prosedur yang jelas kalau saya bayar denda. Kalau karcisnya habis, itu kelalaian petugas dong. Daritadi bapak bilang prosedur, peraturan, ketentuan, masa kayak gini saja lalai. Kalau saya bayar denda, trus pertanggung jawaban bapak ke atasan caranya gimana? Suplisi Rp.5000,- aja ada karcisnya, masa yang Rp. 50.000,- tinggal kasih aja. Uangnya lumayan loh Pak" Serobot saya dengan kesel memuncak.

Saya cuma mikir, kalau ada 10 orang kayak saya aja, tanpa bukti bayar, uang dendanya entah kemana larinya. Entah kenapa beragam alasan mereka ngotot ga ada karcis suplisi. Permintaan saya ga neko-neko, yang semestinya mereka persiapkan juga sebagai prosedur malah ga ada. Pentingnya bukti bayar di toko-toko kan sampai menggratiskan belanjaan kalau struk belanjanya ga dikasih. Nah ini piye..?

Petugas yang satunya lagi, yang agak kalem, tadinya juga mempertanyakan kepentingan saya ngotot pakai karcis. Lalu, dia minta saya tunggu, dia lari ke seberang, masuk ke kantor (bukan ruang jaga), lalu gak lama kemudian keluar dengan karcis suplisi bernominal Rp. 50.000,-, segepok! Segepok!

"Nih ada Mbak, kayak gini ya Mbak?"
Duh, mas-mas itu di cari ada kok ya...

Akhirnya petugas itu menulis tanggal di karcis, pakai paraf. Deretan nomer di sebelah kanan kartunya dia robek dan simpen, robekan besarnya buat saya.
"Nah gitu dong Pak, apa susahnya sih cari karcisnya." Kata saya sambil menyesalkan kejadian tadi karena saya ngabisin waktu ngotot-ngototan doang sampai 20 menitan.

Yang saya engga ngerti, kenapa petugas ngotot banget karcisnya habis, jarang dipakai, engga ada, sementara sebenarnya commuter line sudah menyiapkan prosedur untuk itu. Ajaib dan cukup menghabiskan waktu saya. Saya percaya kalau sistem commuter line sudah semakin baik, tapi mohon untuk urusan seperti ini, apalagi menyangkut masalah uang, mohon perhatikan lagi. Saya sebagai pengguna setia commuter line kok agak kecewa juga. Mau gak mau, saya berpikiran negatif tentang pemakaian uang denda yang saya kasih ke petugas kan? Celah-celah seperti ini masih terjadi dan peluangnya besar untuk dimanfaatkan beragam pihak. Pelajaran juga khususnya untuk  petugas stasiun Lenteng Agung. Mohon karcis suplisinya ditaro di tempat yang bener biar gak hilang lagi :p


Friday, January 20, 2017

Pelangi

Ku ingin cinta hadir untuk selamanya
Bukan hanyalah untuk sementara
Menyapa dan hilang
Terbit tenggelam bagai pelangi
Yang indahnya hanya sesaat
Tuk ku lihat dia mewarnai hari

Tetaplah engkau disini
Jangan datang lalu kau pergi
Jangan anggap hatiku
Jadi tempat persinggahanmu
Untuk cinta sesaat

Mengapa ku tak bisa jadi
Cinta yang tak akan pernah terganti
(Ku hanya menjadi)
Cinta yg tak akan terjadi
Lalu mengapa kau masih disini
Memperpanjang harapan

Tetaplah engkau disini
Jangan datang lalu kau pergi
Jangan anggap hatiku
Jadi tempat persinggahanmu
Untuk cinta sesaat

Kau bagai kata yg terus melaju
Di luasnya ombak samudera biru
Namun sayangnya kau tak pilih aku
Jadi pelabuhanmu

Tetaplah engkau disini
Jangan datang lalu kau pergi
Jangan anggap hatiku
Jadi tempat persinggahanmu

Bila tak ingin disini
Jangan berlalu lalang lagi
Biarkanlah hatiku
Mencari cinta sejati
Wahai cintaku
Wahai cinta sesaat

Wednesday, January 11, 2017

Lullaby of Birdland

Oh, lullaby by birdland that's what I
Always hear, when you sigh,
never in my wordland could there be words to reveal
in a phrase how I feel

Have you ever heard two turtle doves
Bill and coo, when they love?
That's the kind of magic music we made with our lips
When we kiss

And there's a weepy old willow
He really knows how to cry
That's how I'd cry in my pillow
If you should tell me farewell and goodbye

Lullaby by birdland whisper low
Kiss me sweet, and we'll go
Flying high in birdland, high in the sky up above
All because we're in love

Lullaby, Lullaby

Have you ever heard two turtle doves
Bill and coo when they love?
That's the kind of magic music we made with our lips
When we kiss

And there's a weepy old willow
He really knows how to cry
That's how I'd cry in my pillow
If you should tell me farewell and goodbye

Lullaby by birdland whisper low
Kiss me sweet, and we'll go
Flying high in birdland, high in the sky up above
All because we're in love

Monday, January 2, 2017

Hopes for New Year


One of my new year resolution~
I just wanted to share what the most exciting experience when I was a kid, so I passing it through my body, heart, and mind. 
No need to make it big, no need to push my self to change the world,
Happiness with little and simple things are even more valuable than anything
Build something to make difference for one's life, is more than enough
Experiences are the one that really matter instead of things we collected

Please make this year more exciting than last year
So many challenges ahead, so please give me strenght to face it all
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...