Wednesday, August 9, 2017

Crossing Path

Ada kalanya ketika kita sedang dihadapkan kepada beragam pilihan, kita selalu bertanya, apa yang akan kita temui jika kita memilih A? Atau apa yang tidak akan saya temukan jika saya pilih untuk melakukan B?

Hal seperti itu selalu muncul, baik kita sadari maupun tidak. Namun, ada satu hal yang saya selalu ingat.

Ketika lulus dari SMA, saya dihadapkan pada 2 pilihan yang menurut saya sangat sulit: diterima di 2 kampus negeri dengan jurusan yang berbeda pula. Apakah saya akan melewatkan sesuatu jika saya tidak pilih A? Apakah saya akan melewatkan kesempatan merantau jika saya pilih kampus B? Apa saya akan mendapat pekerjaan yang lebih enak jika saya belajar di A?

Namun, kadang satu celetukan sahabat membuat saya sadar sejenak:
"Kalo lo gak pilih ni kampus, lo ga bakal ketemu gue"

Well, saya masih bloon saat itu. Kenapa harus ketemu sama kamu? Apa pengaruhnya buat hidup saya?

Namun, sejak saat itu, kita selalu bertemu dengan orang lain yang baru kita kenal. Orang tersebut bisa jadi seseorang yang sangat penting bagi kita nanti, atau hanya tempat berbagi sejenak, atau ternyata memiliki hubungan dengan teman kita yang lain, bisa jadi pula mengantar kita menemukan hal-hal baru yang tak pernah terpikir sebelumnya.

Hingga suatu saat, ketika sedang haha-hihi dengan teman-teman akrab, kita selalu menerawang ke masa lalu: "Kok bisa ya gue jadi deket sama lo? Awalnya gimana sih?" tentu ngomongnya sambil cekakak-cekikik karena kejadiannya juga absurd dan kadang terlampau bego.

Ada satu rangkaian contoh juga yang baru saya alami dan luar biasa hubungannya. Well, sejak saya pulang dari summer-schoolan di Belanda, saya merasa seketika semesta mendukung! Hal ini tentu mulai dari teman di FB (yang saya kenal dari kegiatan di tempat kerja) membagikan online course gratisan dari kampus terbaik dunia, lalu saya ikutan, dan mereka mengumumkan kalau akan membuka summer school. Lalu, ternyata temen kerja saya, si Vinda, juga sekolah di sana. Lalu sempat galau karena setelah apply dan diterima, saya belum dapat tempat tinggal yang cocok. Teman dekat saya si Ssu kasih tau kalau temannya si Amel juga kuliah di sana. Ternyata, Ssuu pernah minta bikinin gambar ke saya untuk temannya dan ternyata itu Amel! Ternyata juga si Nisa, sohib sekosannya Pia (riorita sesama scholarship hunter), sekolah di Belanda dan pacarnya tinggal di kota yang akan saya kunjungi. Ternyata eh ternyataa Amel, Vinda, serta pacarnya Nisa tinggal sekomplek gedung! Terus saya juga terpaksa berangkat sendiri dan kesana sendirian. Di hari pertama saya tiba, lalu berangkatlah saya ke pasar dan ketemu Safira, classmate summer school dari Kanada yang juga seorang muslim. Safira ini tinggal di kamar temannya yang namanya juga Lia. Setelah itu, kita keliling lagi untuk lihat-lihat Markt di Centruum, eh ketemu Ahtar,anak S2 Landscape TU Delft pas lagi lihat-lihat lapak buku arsitektur. Ternyata Ahtar ini kenal baik dengan Bu Lily, pernah di FCL yang sekarang posisinya di ganti sama Dio, juga anak Arcasia Jamboree 2012. Setelah itu ketemu juga dengan kak Ayu, lalu ketemu Kak Tuty, yang ternyata ngerjain tugas bareng pacarnya Nisa, juga ketemu Phillip yang pernah satu pesawat sama Jokowi, terus beneran ketemu Nisa di hari terakhir, dll etc~~

Well, serangkaian kejadian itu bukan kebetulan semata kan?
Ibaratnya, semua orang sama-sama mendayung perahu kecil di beragam aliran kanal. Ketika alirannya bercabang, kita akan disuruh memilih, akan ke arah manakah alirannya? Kadang arusnya berbatu dan sulit dilalui, namun ada orang lain yang mau menghampiri perahu kita hanya untuk mendorong kita melewati bebatuan itu. Ada pula yang hanya berpapasan, melempar senyum sehingga kita merasa tak sendirian. Ada pula saatnya perahu kita dan banyak orang lain berkumpul, lalu bersama terhibur dengan turbulence nya.

Ah, sekarang mungkin saya mulai paham. Dunia terasa kecil hanya jika kita membuka diri untuk mengenal orang lain, menemukan hal-hal baru, dan menghapus beragam prasangka. Mungkin kamu akan berkata: "Itu kan takdir namanya." Tapi, saya tak akan merasakan takdir itu jika saya tidak memilih kan? Atau apa yang akan terjadi jika saya tidak berusaha untuk mencari tahu apa pilihan terbaik untuk saya?

Well, saya berjanji, jika saya memutuskan untuk memilih, saya akan berusaha membuka pintu untuk beragam peluang itu, sehingga saya akan tahu apakah takdir benar-benar mendukung saya melewati pilihan itu atau tidak.

Nasib sudah tertulis, tapi masa depan kan masih misteri :)

Monday, July 10, 2017

Being Success or Failed

It is time for me to letting my Chevening scholarship gone, as I don't get any reply from my university about my uncoditional LOA. I feel really sad, but deep in my heart I've been blame myself for my pessimistic side.

Chevening is my first scholarship which I'm applied to. I wrote down my essay in 5 hours, uploaded it in the last day. Only miracle letting me get my interview invitation, even get my conditional award. Until one of my worry happened. Ready or not, I have to apply for the university which have a really high standard. Once again, I'm not that confidence. If not because of the Chevening requirement, I won't get my courage to spend more IDR 1 million to get my application done.

Until now, two more days, or else my scholarship will be handed to the reserved awardee. I promised myself I won't cry. 1 month feels like longer than a year. Two days will be my nerve-wrecking moment. Meanwhile, I should be grateful enough I'm preparing for my summer school at TU Delft, NL.

My pray everyday, only God know the best. I've tried, eventhough I know I'm not trying that hard. If my decision can affect and be a positive change even to my surroundings, then God know it will be my new learning proccess. If its only have benefit for myself, I hope I won't get it.

I'm writing this as my healing proccess, as I know I'm growing up writing my everyday moments. I won't forget this time of my life, since it be my important point in my life. Should I get my master degree? Should I lost it to earning more money?

Atleast, I have tried, than dreaming about it all day not doing anything.

Wednesday, July 5, 2017

Hope for Miracle

Waiting for miracle is the best feeling in the world...
You will be nervous from time to time,
waiting something good happen to you.
When the time is coming,
You can't imagine how you really grateful for the moment
Only in the second, you will forget the hardship you've been through
You will make it as the sweet fruit for all of your sacrifice

Every moments, whether its bad or good, should be cherish all the time.
And keep believing we will have a beautiful result in the end of our time
That's how we hold on for our life and after

Keep believing, Lia
You will know when the time is right

Saturday, May 27, 2017

Kartu Ucapan Untuk Keluarga

Well, people posting about all good things happened in their life: where they travelling, whom they met on their working place, share photos with their lover, and kids who just born. I'm lying if I said I'm not jealous. I'm not the type of people who updating all of my life moments, but people do asking me what I'm doing all this time. I am good, and feel content, I assured that. Now I'm enjoying interact with children who honestly express themselves.

If you ask me what is the most successful point of my life, It just happened yesterday. Seri Seni, a community I've been organizing for a half year, did something great. We held a workshop about how to make a greeting card for their love ones. The idea of activity itself come from children, but the concept inspired by a book: "Thinking Hand" by  Juhani Pallasmaa (Thanks to Pia :p). Hand as our precious tool of our body, conveys our mental image, our fondest hope and memory, into muscular activity, then processing the message to the outside of our mind. As a result, the outcome could be understood by the people who shares the same experience. It is great by how our mind and body intertwined in the process of conveying our feelings. That is why, there are no things that could replace the sincerity of drawings by hand.

They were tracing their own hand on a piece of paper, making it a 'love' shape in the middle of it so that they can write a message on it. The outcome is pretty and they were really ambitious of what they create. Even when the time is up, they are still busy decorating their greeting card.

The activity is done, and they gave it to the person they love the most. After posting some of pictures to their whatsapp group, one of their mother said that it made her touched by the message. Well, the message drawn by hand had conveyed and even touched their heart. I feel like I'm doing good today and it can fuel my energy for a whole week.













Monday, May 8, 2017

Tahap Partisipasi Warga dalam Kegiatan LabTanya




Pada saat perkuliahan, saya berlatar belakang interior dan jarang membahas tentang konteks kota. Kota, menjadi ruang bermain yang sangat besar di kepala saya. Interaksi manusia dengan ruang kota dan sebab akibat yang melatarbelakanginya menjadi hal yang benar-benar baru saya pelajari.

Beberapa proyek LabTanya yang berhubungan dengan kota pun sempat saya ikuti. Tantangan setiap kegiatan tentu berbeda, namun ada beberapa hal yang bisa saya ambil hikmahnya. Kegiatan tersebut antara lain A[park]ment, CaPing Tanpa Sampah, dan SERABI. Lingkup masing-masing proyek bervariasi. Jika A[park]ment menyasar komuter yang bekerja di pusat kota dan tinggal di suburban, CaPing Tanpa Sampah fokus hanya di satu lingkup rukun warga., sedangkan SERABI bermain dengan konteks kota suburban yaitu: Bintaro

Ketiga proyek ini memiliki tantangan dengan metode partisipasi. Jika biasanya arsitek mendesain dengan pertimbangan pemikirannya dan klien ditambah dengan penjajakan seperlunya, maka dalam metode partisipasi ini tentu harus lebih sabar untuk belajar. Belajar apa? Belajar untuk menahan ego dan mengerti bahwa ada hal yang bisa didapat kalau kita benar-benar sabar. Menjadi warga, bukan arsitek. Menjadi teman, bukan sebagai arsitek. Banyak hal yang bisa kita pelajari dari warga. Menahan diri untuk tidak terjebak dalam anggapan-anggapan praktis. Membuka mata lebih lebar untuk bisa menemukan sesuatu. Membuka diri dan hati, membuat sudut pandang baru dari beragam sisi. Juga belajar untuk melihat peluang, melihat kebaikan atas sesuatu, bukan melulu fokus terhadap masalah yang harus diselesaikan. Proyek-proyek ini tentu bukan produk langsung jadi untuk bisa diterima. Justru dari penolakan-penolakan saya belajar. Memulai metode partisipasi dari awal memang sulit. Namun dari kesulitan justru kita menemukan pembelajaran baru, bukan sebagai kegagalan.

Mengapa harus dengan metode partisipasi?
Partisipasi memiliki kekuatan dengan bagaimana keputusan-keputusan dilakukan dengan pertimbangan dari yang menjalani kebijakan. Mendesain dengan metode partisipasi memiliki kedekatan yang intim dengan pelaku itu sendiri. Hal ini membuat para pelaku yaitu warga, menjadi mandiri dan dapat dengan fleksibel beradaptasi. Selain itu, kebijakan-kebijakan apapun yang dibuat tanpa partisipasi warga dikhawatirkan tidak berkelanjutan, sebaik apapun kebijakan itu dibuat. Selain itu, inisiatif yang terbentuk tentu akan memiliki ciri khas, sesuai dengan budaya masyarakat setempat dan akan menjadi sesuatu yang kaya untuk disebar dan dipelajari.

Metode partisipasi ini sebelumnya saya pelajari dalam materi perkuliahan. Beragam teori mengacu tentang bagaimana sekelompok masyarakat memiliki tahapan-tahapan tersendiri sehingga kita harus beradaptasi dengan tahap tersebut. Perlakuan yang diberikan pun berbeda-beda. Selama melakukan proyek LabTanya, kami selalu memikirkan tentang seluas apa proyek ini akan berjalan, siapa target sasarannya, dalam kurun waktu berapa lama, dan kemampuan masyarakat untuk bisa merespon program yang kami usulkan.

Menurut Sherry R Arnstein tentang “Ladder of Citizen Participation”, masyarakat memiliki 8 tahapan sebelum menuju ke aktivasi warga yang sesungguhnya.

The bottom rungs of the ladder are (1) Manipulation and (2) Therapy. These two rungs describe levels of "nonparticipation" that have been contrived by some to substitute for genuine participation. Their real objective is not to enable people to participate in planning or conducting programs, but to enable powerholders to "educate" or "cure" the participants. Rungs 3 and 4 progress to levels of "tokenism" that allow the havenots to hear and to have a voice:
(3) Informing and (4) Consultation. When they are proffered by powerholders as the total extent of participation, citizens may indeed hear and be heard. But under these conditions they lack the power to insure that their views will be heeded by the powerful. When participation is restricted to these levels, there is no follow-through, no "muscle," hence no assurance of changing the status quo. Rung (5) Placation is simply a higher level tokenism because the ground rules allow have-nots to advise, but retain for the powerholders the continued right to decide.
Further up the ladder are levels of citizen power with increasing degrees of decision making clout. Citizens can enter into a (6) Partnership that enables them to negotiate and engage in trade-offs with traditional power holders. At the topmost rungs, (7) Delegated Power and (8) Citizen Control, have-not citizens obtain the majority of decision-making seats, or full managerial power.”

Jika ditelisik dari teori ini dan dihubungkan dengan kegiatan LabTanya, secara garis besar yang kami lakukan adalah dalam tahap “informing” dan “consultation”. Meskipun dalam detailnya ada banyak tahapan yang mungkin tidak disebut, namun secara sederhana kedua praktik itu yang lebih banyak disorot. Warga yang kami libatkan kebanyakan adalah warga Bintaro, yang notabene adalah warga dengan tingkat ekonomi menengah keatas dan berpendidikan tinggi. Kebanyakan adalah para praktisi atau pensiunan yang bergerak di macam-macam bidang. Tentu memiliki tantangan tersendiri karena tidak seperti program partisipasi yang biasanya bertempat di masyarakat marginal. Awalnya meskipun memiliki sambutan antusias, namun belum banyak yang membangun kegiatan ini dengan kesadaran ‘aktivasi warga’. Jadi kurang lebih pada tahap awal satu tahun kegiatan LabTanya, yang kami lakukan adalah menggali informasi sebanyak-banyaknya dan menyebarkannya pada sasaran yang tepat. Menggali informasi terlebih dahulu menjadi satu strategi komunikasi untuk menawarkan inisiatif sesuai fakta yang dekat dan dapat dirasakan langsung oleh warga.

Misalkan dalam kegiatan CaPing Tanpa Sampah, sebelum bertemu dengan warga, kami menggali informasi dahulu sebanyak mungkin tentang jumlah sampah yang dihasilkan di lingkungan mereka. Kami juga melakukan kunjungan ke TPA yang menampung sampah warga. Memetakan gerobak pengepul dan jenis sampah apa saja yang diterima menjadi tawaran kepada warga untuk bisa lebih mudah mengikuti kegiatan. Selain itu, mendapatkan para relawan yang mau dihitung sampah hariannya dan diuji coba dalam praktek mengurangi sampah menjadi contoh bagi warga lain. Informasi ini terus dikumpulkan dan disebar pada waktu dan sasaran yang tepat. Sehingga pada tahun pertama ini yang terus dilakukan adalah memetakan informasi.

Metode komunikasi menjadi satu hal yang penting untuk menyampaikan maksud dan tujuan tanpa terkesan memberi tugas besar dan merepotkan bagi warga. Dalam tahap ini hubungan dua arah menjadi hal krusial. Tak hanya menyampaikan inisiatif, namun juga membuka diri untuk menyerap ilmu sebanyak-banyaknya. Mengikuti kegiatan warga menjadi salah satu metode untuk tahap awal agar mengerti budaya warga setempat dari kacamata mereka.

Selagi menggali informasi dari warga, menemukan orang-orang sebagai “kunci” juga menjadi salah satu sorotan penting memulai inisiatif. Dalam prosesnya, orang-orang yang memiliki kesamaan motivasi dan bisa diandalkan dalam kelompoknya menjadi pendorong utama untuk memulai inisiatif. Biasanya juru kunci ini menjadi seseorang yang menjabat di lingkungannya, meskipun tidak selalu demikian. Memegang kepercayaan juru kunci ini juga merupakan akses yang cukup membantu untuk keberlanjutan program.

Dalam proyek SERABI, kami bekerjasama dengan beragam komunitas di Bintaro. Tak bisa dikatakan mudah pada awalnya. Beberapa inisiatif memang belum ditanggapi dengan serius. Mungkin terkendala dengan prioritas komunitas itu sendiri. Namun, kami rasa ketika bekerjasama dengan pemuda-pemuda karang taruna Pondok Pucung, Arseda, kami melihat adanya potensi keberlanjutan karena mereka sudah memiliki pondasi yang kuat sebagai suatu perkumpulan. Mungkin karena pemuda-pemuda tersebut memiliki ikatan yang kuat dengan lingkungannya, maka dalam tahap ini LabTanya hanya masuk dalam tahap ‘consulting’. Mereka sudah memiliki inisiatif awal, namun terkendala kegiatan lanjutan. Disini proses pendekatan kurang lebih sama dengan proyek Kota Tanpa Sampah yaitu mengikuti acara ‘nongkrong’nya. Selanjutnya kerjasama berjalan karena Serabi dan Arseda saat itu memiliki tujuan yang sama. Maksud inisiatif dapat tersampaikan karena sudah masuk dalam satu frekuensi. Lebih detailnya, memang terdapat “juru kunci” dalam komunitas Arseda yang dipandang sebagai sosok pemimpin dan inisiator. Juru kunci inilah yang bisa mendorong inisiatif sampai ke titik partisipasi.

Banyak potensi yang ada di lingkungan Bintaro terkait dengan kegiatan yang kami lakukan. Namun, tantangan selanjutnya adalah bagaimana program ini dapat berlangsung secara keberlanjutan. Banyaknya pensiunan di lingkungan kami serta pekerja yang bolak-balik Jakarta-Bintaro, menemukan pemuda-pemuda sebagai penerus kegiatan ini tentu bukan pekerjaan yang mudah. Dari beberapa hal yang kami diskusikan dalam Ngobrol Serabi: Potensi Bintaro, keputusan warga untuk tidak ikut serta dalam beragam kegiatan selain bekerja dan urusan keluarga adalah banyaknya waktu yang mereka habiskan dalam perjalanan sebagai komuter. Hal itu menyebabkan kurangnya waktu mereka di rumah dan waktu akhir pekan yang banyak dihabiskan untuk berjalan-jalan di pusat perbelanjaan atau di rumah. Hal ini yang lebih lanjut lagi kami temukan sebagai kemungkinan penyebab beragam komunitas kreatif di Bintaro kurang berjalan aktif.

Terkait dengan perjalanan rumah-kantor para komuter di Bintaro yang menyebabkan tidak ada waktu untuk warga berkumpul dengan komunitas, saya teringat tentang proyek A[park]ment. A[park]ment memiliki isu utama yaitu bagaimana kota belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan ruang bagi warganya. Dengan menggunakan mobilitas komuter sebagai salah satu bahan kajian, ternyata masalah laten Jakarta seperti kemacetan terjadi karena urutan kejadian yang saling berhubungan. Menjadi komuter, selain berpengaruh kepada kota yang dituju sebagai tempat bekerja, juga dapat berpengaruh ke budaya pekerja itu sendiri di lingkungan tempat tinggalnya. Mungkin kedekatan antara tempat bekerja dan tempat tinggal juga berperan dalam bagaimana warga dapat menempatkan diri untuk berkumpul, berinisiatif dan berpartisipasi di lingkungannya. Hal tersebut menjadi suatu poin yang dipertimbangkan untuk mengidentifikasi tahapan lingkungan akan suatu partisipasi warganya.

Tahapan dari partisipasi warga ini mungkin memiliki variabel yang berbeda-beda di setiap tempat. Untuk dapat mencapai partisipasi aktif warga memang perlu dilakukan beragam motivasi. Akan lebih tepat sasaran apabila motivasi tersebut muncul dari galian-galian informasi yang bisa dipetakan dengan baik. Informasi yang telah kita dapatkan bisa menjadi suatu tawaran sehingga inisiatif ini dapat direspon oleh warga, baik berupa saran dan kritik. Saran dan kritik inilah yang sebenarnya penting dalam urbanisme warga, yaitu berkumpul untuk musyawarah dan berdiskusi, membahas suatu isu dan potensi, menyampaikan pengetahuan ke generasi selanjutnya. Jika minimal budaya menggali informasi, menyebarkan, dan berkumpul ini kembali mengakar, maka itulah salah satu pintu untuk mendorong warga kembali aktif berinisiatif.

Friday, April 21, 2017

Mungkinkah Kau Tahu Jawabnya?


I just found out that Payung Teduh remaking their songs full with Yamaha live instruments!
Lovely, romance in the rain season is strong with this song~
Ah, I can't even leaving for one second once the song played

"Atau kau ingin aku
berteriak sekencang-kencangnya
agar seluruh ruangan ini
bergetar oleh suaraku"


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...