Saturday, September 2, 2017

Menarilah... Denganku...

Di depan teras rumah
Fana merah jambu,
Ku berdua

Moment-moment tak palsu
Air tuhan turun,
Aromamu

Tersaluran aliran syaraf buntu
Martin tua media pembuka

Berdansa sore hariku
Sejiwa alam dan duniamu
Melebur sifat kaku-ku
Hal bodoh jadi lucu
Obrolan tak perlu,
Kala itu

Tersalurkan aliran syaraf buntu
Martin tua media pembuka
Berdansa sore hariku
Sejiwa alam dan duniamu
Melebur sifat kaku-ku

Rasanya tak cukup waktu
Terlalu cepat berlalu
Soreku nyaman denganmu
Menarilah, Menarilah
Menarilah, Denganku

Genggam tangan coklatku
Berputar-putar denganku
Menarilah, Menarilah...


Menarilah, Menarilah
Menarilah,
Denganku....




credit: @fourtwntymusic

Wednesday, August 9, 2017

Crossing Path

Ada kalanya ketika kita sedang dihadapkan kepada beragam pilihan, kita selalu bertanya, apa yang akan kita temui jika kita memilih A? Atau apa yang tidak akan saya temukan jika saya pilih untuk melakukan B?

Hal seperti itu selalu muncul, baik kita sadari maupun tidak. Namun, ada satu hal yang saya selalu ingat.

Ketika lulus dari SMA, saya dihadapkan pada 2 pilihan yang menurut saya sangat sulit: diterima di 2 kampus negeri dengan jurusan yang berbeda pula. Apakah saya akan melewatkan sesuatu jika saya tidak pilih A? Apakah saya akan melewatkan kesempatan merantau jika saya pilih kampus B? Apa saya akan mendapat pekerjaan yang lebih enak jika saya belajar di A?

Namun, kadang satu celetukan sahabat membuat saya sadar sejenak:
"Kalo lo gak pilih ni kampus, lo ga bakal ketemu gue"

Well, saya masih bloon saat itu. Kenapa harus ketemu sama kamu? Apa pengaruhnya buat hidup saya?

Namun, sejak saat itu, kita selalu bertemu dengan orang lain yang baru kita kenal. Orang tersebut bisa jadi seseorang yang sangat penting bagi kita nanti, atau hanya tempat berbagi sejenak, atau ternyata memiliki hubungan dengan teman kita yang lain, bisa jadi pula mengantar kita menemukan hal-hal baru yang tak pernah terpikir sebelumnya.

Hingga suatu saat, ketika sedang haha-hihi dengan teman-teman akrab, kita selalu menerawang ke masa lalu: "Kok bisa ya gue jadi deket sama lo? Awalnya gimana sih?" tentu ngomongnya sambil cekakak-cekikik karena kejadiannya juga absurd dan kadang terlampau bego.

Ada satu rangkaian contoh juga yang baru saya alami dan luar biasa hubungannya. Well, sejak saya pulang dari summer-schoolan di Belanda, saya merasa seketika semesta mendukung! Hal ini tentu mulai dari teman di FB (yang saya kenal dari kegiatan di tempat kerja) membagikan online course gratisan dari kampus terbaik dunia, lalu saya ikutan, dan mereka mengumumkan kalau akan membuka summer school. Lalu, ternyata temen kerja saya, si Vinda, juga sekolah di sana. Lalu sempat galau karena setelah apply dan diterima, saya belum dapat tempat tinggal yang cocok. Teman dekat saya si Ssu kasih tau kalau temannya si Amel juga kuliah di sana. Ternyata, Ssuu pernah minta bikinin gambar ke saya untuk temannya dan ternyata itu Amel! Ternyata juga si Nisa, sohib sekosannya Pia (riorita sesama scholarship hunter), sekolah di Belanda dan pacarnya tinggal di kota yang akan saya kunjungi. Ternyata eh ternyataa Amel, Vinda, serta pacarnya Nisa tinggal sekomplek gedung! Terus saya juga terpaksa berangkat sendiri dan kesana sendirian. Di hari pertama saya tiba, lalu berangkatlah saya ke pasar dan ketemu Safira, classmate summer school dari Kanada yang juga seorang muslim. Safira ini tinggal di kamar temannya yang namanya juga Lia. Setelah itu, kita keliling lagi untuk lihat-lihat Markt di Centruum, eh ketemu Ahtar,anak S2 Landscape TU Delft pas lagi lihat-lihat lapak buku arsitektur. Ternyata Ahtar ini kenal baik dengan Bu Lily, pernah di FCL yang sekarang posisinya di ganti sama Dio, juga anak Arcasia Jamboree 2012. Setelah itu ketemu juga dengan kak Ayu, lalu ketemu Kak Tuty, yang ternyata ngerjain tugas bareng pacarnya Nisa, juga ketemu Phillip yang pernah satu pesawat sama Jokowi, terus beneran ketemu Nisa di hari terakhir, dll etc~~

Well, serangkaian kejadian itu bukan kebetulan semata kan?
Ibaratnya, semua orang sama-sama mendayung perahu kecil di beragam aliran kanal. Ketika alirannya bercabang, kita akan disuruh memilih, akan ke arah manakah alirannya? Kadang arusnya berbatu dan sulit dilalui, namun ada orang lain yang mau menghampiri perahu kita hanya untuk mendorong kita melewati bebatuan itu. Ada pula yang hanya berpapasan, melempar senyum sehingga kita merasa tak sendirian. Ada pula saatnya perahu kita dan banyak orang lain berkumpul, lalu bersama terhibur dengan turbulence nya.

Ah, sekarang mungkin saya mulai paham. Dunia terasa kecil hanya jika kita membuka diri untuk mengenal orang lain, menemukan hal-hal baru, dan menghapus beragam prasangka. Mungkin kamu akan berkata: "Itu kan takdir namanya." Tapi, saya tak akan merasakan takdir itu jika saya tidak memilih kan? Atau apa yang akan terjadi jika saya tidak berusaha untuk mencari tahu apa pilihan terbaik untuk saya?

Well, saya berjanji, jika saya memutuskan untuk memilih, saya akan berusaha membuka pintu untuk beragam peluang itu, sehingga saya akan tahu apakah takdir benar-benar mendukung saya melewati pilihan itu atau tidak.

Nasib sudah tertulis, tapi masa depan kan masih misteri :)

Monday, July 10, 2017

Being Success or Failed

It is time for me to letting my Chevening scholarship gone, as I don't get any reply from my university about my uncoditional LOA. I feel really sad, but deep in my heart I've been blame myself for my pessimistic side.

Chevening is my first scholarship which I'm applied to. I wrote down my essay in 5 hours, uploaded it in the last day. Only miracle letting me get my interview invitation, even get my conditional award. Until one of my worry happened. Ready or not, I have to apply for the university which have a really high standard. Once again, I'm not that confidence. If not because of the Chevening requirement, I won't get my courage to spend more IDR 1 million to get my application done.

Until now, two more days, or else my scholarship will be handed to the reserved awardee. I promised myself I won't cry. 1 month feels like longer than a year. Two days will be my nerve-wrecking moment. Meanwhile, I should be grateful enough I'm preparing for my summer school at TU Delft, NL.

My pray everyday, only God know the best. I've tried, eventhough I know I'm not trying that hard. If my decision can affect and be a positive change even to my surroundings, then God know it will be my new learning proccess. If its only have benefit for myself, I hope I won't get it.

I'm writing this as my healing proccess, as I know I'm growing up writing my everyday moments. I won't forget this time of my life, since it be my important point in my life. Should I get my master degree? Should I lost it to earning more money?

Atleast, I have tried, than dreaming about it all day not doing anything.

Wednesday, July 5, 2017

Hope for Miracle

Waiting for miracle is the best feeling in the world...
You will be nervous from time to time,
waiting something good happen to you.
When the time is coming,
You can't imagine how you really grateful for the moment
Only in the second, you will forget the hardship you've been through
You will make it as the sweet fruit for all of your sacrifice

Every moments, whether its bad or good, should be cherish all the time.
And keep believing we will have a beautiful result in the end of our time
That's how we hold on for our life and after

Keep believing, Lia
You will know when the time is right

Saturday, May 27, 2017

Kartu Ucapan Untuk Keluarga

Well, people posting about all good things happened in their life: where they travelling, whom they met on their working place, share photos with their lover, and kids who just born. I'm lying if I said I'm not jealous. I'm not the type of people who updating all of my life moments, but people do asking me what I'm doing all this time. I am good, and feel content, I assured that. Now I'm enjoying interact with children who honestly express themselves.

If you ask me what is the most successful point of my life, It just happened yesterday. Seri Seni, a community I've been organizing for a half year, did something great. We held a workshop about how to make a greeting card for their love ones. The idea of activity itself come from children, but the concept inspired by a book: "Thinking Hand" by  Juhani Pallasmaa (Thanks to Pia :p). Hand as our precious tool of our body, conveys our mental image, our fondest hope and memory, into muscular activity, then processing the message to the outside of our mind. As a result, the outcome could be understood by the people who shares the same experience. It is great by how our mind and body intertwined in the process of conveying our feelings. That is why, there are no things that could replace the sincerity of drawings by hand.

They were tracing their own hand on a piece of paper, making it a 'love' shape in the middle of it so that they can write a message on it. The outcome is pretty and they were really ambitious of what they create. Even when the time is up, they are still busy decorating their greeting card.

The activity is done, and they gave it to the person they love the most. After posting some of pictures to their whatsapp group, one of their mother said that it made her touched by the message. Well, the message drawn by hand had conveyed and even touched their heart. I feel like I'm doing good today and it can fuel my energy for a whole week.













Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...