Wednesday, August 20, 2014

Magang Salihara

Many of them said that:
"Ngapain sih kerja di Salihara? kan lulusan arsitektur interior?"

Heheee well,
Pekerjaan saya sekarang, meskipun namanya magang, tapi saya sangaat senang.
Mungkin sampai hari ketiga, belom kelihatan yaa.
Tapi, untuk penikmat seni (yang ga expert2 amat) kayak saya, bisa punya tempat di gedung-gedung aneh ini, nontonin acara-acaranya, ikutan rapat di sudut-sudut ruang yang tak terpikir sebelumnya, menemukan padang ilalang di atap, serta main-main di teater terbuka menjadi pengalaman yang cukup cihuy :)

Gak cukup menantang? Hehee mungkin iya. Beda banget dengan rutinitas anak ars yang hampir pasti mesti begadang. Tapi, kalau kita menikmati pekerjaannya, why not?
Saya udah mengutarakan rencana saya untuk ke depannya, orang tua saya happy-happy aja asal saya bisa bertanggung jawab. Jujur aja, saya ngga bilang-bilang apply ini-itu ke orang tua saya. Tapi, saya yakin, keputusan nurani ditambah kerja keras untuk mendapat lebih bakal berguna. PRnya saya sekarang adalah saya harus lebih berani. Di Salihara itu banyak orang-orang hebat. Saya udah kenalan dengan beberapa dari mereka (Baru Mas Guntur Romli, Mas Tony Prabowo, Mas Choky, belom kenalan sm Pak GM dan Mbak Ayu). Tapi belum berani untuk sok sapa gituu (Kan malyuuu (>///<)) Sayang kan kalau orang-orang hebat ini ga dimanfaatin buat diskusi? Pengen bangeet bisa belajar manajemen pameran sama tata panggung. Harus lebih sering ikutan ngobrol nih berartiii...

Salihara adalah tempat yang paling saya suka di Jakarta. Tempat paling aneh yang pernah saya temui, dengan sudut-sudut ruang yang lebih ajaib lagi kalo bisa sempet kamu eksplor. Saya ngga ngerasain sebagai "kerja" tapi lebih karena saya penasaran, saya ingin masuk dalam lingkaran orang-orang keren ini. Saya harus lebih giat cari tahu banyak hal. Saya mungkin sudah datang ke beberapa galeri di Jakarta, tapi tidak ada yang menyediakan teater untuk seni pertunjukkan kayak Salihara (dan untungnya paling dekat rumah). Sebenarnya saya lebih penasaran bagaimana mereka godok materinya. Kenapa begini, kenapa begitu dan tetek bengeknya.

Ohiyaaa saya penasaran satu hal lagi: Tentang branding Salihara. Saya rasa tempat ini terlalu high class untuk dijadikan tempat edukasi seni yang meluas. Terlalu intelek dan beberapa image membuat tempat ini terkesan tertutup dan eksklusif. Saya merasakannya dari berbagai sudut pandang ya. Saya dulu pengunjung yang di ajak teman, abis itu saya datang sendiri, abis itu saya yang ngajak teman ke Salihara, pernah mengadakan pameran juga di serambinya (tapi sebagai pihak luar) dan sekarang, saya masuk sebagai staff. Saya pernah agak kesulitan dengan citra tersebut saat saya mengadakan pameran di sana. Hampir pasti, ga ada orang yang secara otodidak lewat depan Salihara lalu masuk karena penasaran sama acaranya. Yang dateng ke Salihara pasti orang yang sudah mengerti ada apa di dalam, beberapa mungkin petualang yang paham membiarkan dirinya tersesat. Selain itu, entah kenapa saya selalu mengasosiasikan orang-orang penikmat seni adalah orang yang berkecukupan? Meskipun ga gitu juga sih... banyak juga yang idealis dan arti kata 'cukup'nya hanya berlaku bagi dirinya sendiri. Tapi, manajemen yang tertata sedemikian rupa di Salihara membuat tempat ini nyeni sekaligus memiliki nilai lebih sebagai satu bisnis. Hemm... mungkin lebih tepatnya... berusaha untuk bertahan, mempertahankan diri untuk terus mengedukasi masyarakat dengan seni?

Tapi, mungkin, untuk lain waktu di lain kesempatan, masyarakat di sekitar Salihara, khususnya anak-anak komplek belakang, pedagang di sekitar Salihara, Ibu-ibu serta bapak-bapak yang cuma tahu tempatnya, bisa di ajak untuk nonton pertunjukkannya. Sebenarnya tiket Salihara cukup murah, dibandingkan pentas teater lainnya. Tapi mungkiiin sesekali bolehlah yaa untuk mengundang anak jalanan, ibu-ibu penyapu jalan, penjual sayur dll untuk turut menikmati seni berkualitas tinggi. Siapa tahu mereka memang belum tertarik dengan seni karena tidak memiliki akses menuju seni yang cukup baik. Apalagi untuk anak-anak yang kurang beruntung, pengalaman sepe
rti ini jika menyentuh hati mereka, akan diingat terus dan bisa menjadi inspirasi untuk memiliki cita-cita sebagai seniman.

Salihara, sebagai tempat diskusi dan wadah menampung seni visual dan seni pertunjukkan sudah menjalankan kinerja mereka sebaik-baiknya. Targetan Salihara memang untuk anak muda yang melek seni. Beberapa pertunjukkan atau diskusi bahkan ga nyampe untuk otak saya saking inteleknya hheee.. Tapi mungkin, mungkin loh yaa.. bisa membumikan seni berkualitas tinggi juga salah satu tanggung jawab kita. Saya pikir, seni adalah bagaimana kita mengungkapkan sesuatu lewat berbagai media dengan cara yang cerdas. Mungkin beberapa gamblang, mungkin banyak juga yang harus direnungkan secara mendalam. Cara mengungkapkan ekspresi seperti itulah yang perlu untuk kembali dibumikan. Jika banyak orang yang melek dan bisa seni, dunia pasti bakal lebih seruu..

Saya bakal lebih bahagia kalau ada tempat semacam Salihara banyak bertaburan di Jakarta. Saya sih lebih ikhlas ngabisin duit di tempat beginian dibanding mall. Mudah-mudahan untuk kedepannya makin banyak masyarakat yang mau datang, mudah-mudahan juga makin banyak tempat macam Salihara. Yap, sebenarnya cita-cita saya ini menjadi bagian dari pekerjaan saya di promosi. Yaa semakin banyak yang datang, semakin banyak yang tahu, pasti kepincut dan pengen datang lagi di lain waktu :)

Ini baru 3 hari kerja.. tunggu postingan lain mungkin pas kelar magangnya deh yaa hhee











No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...